Sebuah cerpen
Iswan Sual
Masih kuingat saatku masih kecil
dulu. Waktu itu Sinonsayang dan Lolombulan masih hijau dan rimbun. Jalanan
masih berlubang-lubang dan penuh bejek bila musim hujan. Yang kutahu dunia
hanya selebar perkebunan Suka hingga perkebunan Mesel[1].
Kemana ayahku pergi, aku ikut membuntutinya. Bila dia punya parang, saya juga
punya. Walau ukurannya berbeda. Rerumputan masih lebih tinggi dari badanku.
Saya senang sekali bersama ayah. Saya menirukan gerakan-gerakannya saat menebas
rerumputan di bawah pohon cengkih dan kelapa. Saya juga gembira bila ayah
bersiul sambil memikul kayu bakar di saat kami pulang ke rumah dari kebun. Saya
ingin selalu bersama ayah. Sampai-sampai aku menangis bila tak bisa melihat
ayah saat aku pulang dari sekolah. Lucu! Saya lebih senang bersama ayah di
kebun ketimbang di rumah bersama ibu dan adik kecilku.
Tiba-tiba, segalanya berubah tatkalah
aku mulai sekolah. Rasa kagum saya pada ayah
berpindah kepada guru-guru saya. Bahkan sampai mengidolakan mereka. Aku
diajarkan tentang perilaku baik: kejujuran, keberanian, tenggang rasa, kerja
keras dan keadilan. Juga diajarkan berhitung, berbahasa Indonesia, alam sekitar
dan lingkungan sosial. Kehidupan sekolah menjadi lebih menarik bagiku. Para
guru-guru menaburi hariku dengan mimpi-mimpi indah. Aku jatuh hati pada semua
itu. Dulu karena ayah aku ingin jadi petani. Kini karena guru-guru aku ingin
menjadi seorang guru.
Seiring waktu dan pindah dari satu
kelas ke kelas yang lain, tiap hari cita-citaku pun berubah. Itu karena tiap
hari aku belajar hal baru. Hingga suatu waktu aku memutuskan bahwa cita-citaku
adalah menjadi seorang kepala desa. Pikirku, menjadi kepala desa adalah
pekerjaan mulia. Bisa langsung membantu masyarakat merencanakan, melaksanakan
dan melestarikan pembangunan. Aku memutuskan waktu itu; setinggi apapun
pendidikanku, aku akan pulang ke desa dan mencalonkan diri sebagai kepala desa.
Lagipula pikirku, menjadi kepala desa itu mudah. Cukup siapkan diri dengan
bekal ilmu dan kehendak untuk bertanggungjawab. Tak perlu membayar dan bermain
curang-curangan. Aku yakin bahwa desaku belum tercemar dengan perilaku intrik
kotor dan tidak benar. Tak berkampanye bohong seperti anggota-anggota DPR dan
pejabat-pejabat.
Tekad yang bulat turut membantu saya
di setiap tingkatan sekolah. Sehingga tak pelak saya selalu juara kelas hingga
di bangku kuliah. Setelah lulus sarjana sayapun pulang untuk memenuhi panggilan
sosial. Bertepatan waktu itu sedang dibukanya pendaftaran untuk menjadi Hukum
Tua. Begitu orang tahu saya pulang, mereka menyambut dengan sukaria. Mereka pun
berbondaong-bondong memberi dorongan. Tak tergambarkan rasa senang saya. Aku
siap turut serta dalam pencalonan. Berkas-berkas saya penuhi. Semuanya tak ada
yang terkecuali. Sesudah dua kali 14 hari saya dan beberapa warga lainnya
ditetapkan sebagai calon Hukum Tua. Tapi harapanku mendadak pupus dan hilang
pada hari penetapan itu. Ternyata desaku sudah berubah. Sudah tak seperti dulu
lagi. Tak sama dengan ketikaku masih bocah dulu. Tak ada istilah miskin atau
kaya. Cuma mampu, mau dan sedia. Waktu itu ukuran menjadi pemimpin adalah
ketulusan dan tekad membangun desa dengan sekuat tenaga dan segenap jiwa. Tapi
ternyata kini orang sepertiku tak boleh lagi menjadi kepala desa. Ada satu
syarat yang tak bisa saya penuhi. Saya tak bisa memenuhi ketentuan membayar Rp.
3.0000.000. mereka berdalih bahwa jika saya tak mampu membayar berarti saya tak
mau berkorban. Padahal itu sama saja dengan sogok. Orang-orang sekampung telah
mereka hasut. Mereka bahkan menyebar fitna bahwa bila saja jadi kepala desa,
maka saya akan membebani masyarakat dengan pungutan. Dengan kepala tertunduk
aku pulang karena malu. Aku memaki diriku yang miskin. Aku memaki keadaanku dan
nasibku. Aku pun sadar bahwa desa saya tidak membutuhkan orang yang berilmu
tinggi dan bermodal kejujuran serta ketulusan
melainkan orang yang berduit lebih. Cita-citaku tinggalah cita-cita.
Mimpi dan impian tinggal jauh di langit. Kini, aku sudah berusia lanjut. Anakku
berjumlah lima. Semua kularang sekolah. Semua kucegah mengejar mimpi.
“Ayah, kenapa kami tidak boleh
sekolah?” tanya anakku yang ketiga.
“Kamu tak perlu sekolah. Desa kita
tak butuh orang sekolah. Lebih baik kau jadi pencuri. Kumpulkan uang yang
banyak agar kau bisa jadi kepala desa. Supaya kau bisa memimpin desa kita
menjadi lebih baik.”
“Bukankah mencuri itu tidak baik,
ayah? Begitulah kata guru sekolah mingguku,” jawabnya.
“Kalau begitu, mulai hari ini kau tak
usah lagi ke sekolah minggu nak. Gurumu berbohong. Jangan kau tertipu. Jangan
kau ulangi kegagalan ayah!” aku memalingkan wajah dan membelakangi anakku.
Tatapanku bertengger di puncak Sinonsayang. Dahi anakku berkerut marah. Dia tak
tahu kalau pipiku basah oleh tumpahan air mata.
Tondei, 3 April 2013
[1]
Beton. Diduga area itu ditandai oleh Orang Belanda bahwa di tempat itu memiliki
kandungan emas yang baik. Tapi kepada masyarakat bahwa mesel adalah penanda
ketinggian gunung
Tidak ada komentar:
Posting Komentar