Rabu, 07 November 2012

SEBUAH CERPEN: MENTAL PAMONG PRAJA INDONESIA MASA KINI


MENTAL PAMONG PRAJA INDONESIA MASA KINI
Oleh Iswan Sual, S.S

Matahari belum terlalu tegak berdirinya. Namun, kami sudah seperti cacing yang berteriak-teriak minta tolong. Panas! Aku sendiri heran kenapa sang kepala sekolah mendapat ide gila memuat puluhan siswa di atas sebuah truk. Kami diperlakukan seperti sapi yang beberapa waktu lagi akan dijagal. Padahal, dana BOS tidak perlu dihemat dengan cara tidak manusiawi seperti  ini. Sialnya, gara-gara aku hanyalah seorang honor yang masih bujangan, aku dianggap layak untuk dibuat teraniaya. Sementara para guru lain dengan modal seragam PNSnya bertindak seolah bos-bos yang harus dihormati. Sialan! Bagusnya hanya pada seragam. Di dalam kelas seperti keledai saja. Tak mengajar sama sekali.
“Sir, kenapa cuma sir yang nda gabung ta panas-panas deng torang di sini? Nda adil dorang kang sir?” ketus salah seorang siswi. Aku hanya senyum kecil.
Sangatlah tidak pantas bila aku harus menceritakan perasaanku yang sebenarnya pada seorang gadis yang belum cukup pengertiannya. Lagipula aku tak mau menjelek-jelekkan guru-guru lain itu di depan para siswa. Walaupun sebenarya ketidaktahuan mereka mengajar begitu dikenal oleh para murid. Memang, terkadang guru tidak menyadari bahwa sebenarya siswa lebih banyak tahu dari yang kita sebagai guru kira.
Sesampai di ibu kota kecamatan, para guru-guru PNS  dengan pongah memerintah saya supaya mengarahkan para murid ke lapangan dimana upacara bendera akan dilangsungkan. Aku minta mereka agar sabar dengan murid karena mereka sedang capek karena kegerahan. Guru-guru itu terus mendesak gara-gara upacara sudah sementara berlangsung. Ternyata kami datang terlambat. Dengan langkah diam-diam kami masuk ke barisan. Terpaksa siswa-siswa rombongan kami harus menyambung di barisan sekolah lain sebab tempat yang disediakan sudah disabotase sekolah lain. Tentu, akan sangat kentara juga bila kami harus mencari tempat di depan. Akan lebih mempermalukan lagi sekolah kami. Satu persatu aku meminta siswa agar masuk dan menutupi barisan. Susah memang mengaturnya. Dalam situasi begini, seringkali siswa-siswi suka bergelagat. Mereka tahu sanksi tak mungkin diberlakukan. Aku menggunakan cara yang paling lembut untuk menenangkan mereka. Sudah itu akup pun mencari tempat di mana aku bisa berbaris. Yang kupilih adalah di belakang para siswa yang aku antar. Kebetulan berdekatan dengan barisan guru.
Anehnya, kini yang paling gaduh justru barisan para guru. Mereka saling bergantian berseloroh. Paling banter adalah kepala sekolahku sendiri. Leluconnya yang berbau porno menyihir para guru muda lain untuk larut dalam cerita-cerita itu. Barisan merekapun seperti ular. Semua memegang koran sebagai penutup wajah dan kepala. Sedangkan siswa mereka pelototi bila tidak berbaris dengan benar. “Ironis!”
“Istirahat di tempat grak!” teriak si pemimpin upacara.
“Ah lega,” ketus para siswa berbarengan.
Dalam situasi begini mana ada yang mau mendengar wejangan inspektur upacara. Dia seenaknya bicara pacang. Dia memang enak. Ada di panggung kehormatan. Terik matahari tak akan bisa menyengat mereka. Mereka juga bisa duduk. Mereka mengajarkan tentang perjuangan, mereka sendiri tak memberikan panutan. Mereka berperilaku persis seperti orang belanda yang suka perintah-perintah, sedangkan kami, distraf seperti tahanan. Dijemur di bawah panas yang tak punya belas kasih.
Aku masih saja berdiri tegak dengan kaki sedikit mengangkang. Kedua tanganku menyilang di belakang. Seperti diborgol. Aku membayangkan diriku persis seperti Walter Monginsidi yang siap dieksekusi oleh regu tembak. Peluh mengalir deras dari kepala. Punggungku sudah basah. Benar-benar basah. Barisan guru-guru semakin beringas. Tawa semakin melengking. Tiba-tiba seorang siswa perempuan terombang-ambing di atas tanah.
“Sir! Sir! Fista pusing, sir!”
Dengan cepat aku berlari menahan tubuh mungilnya sebelum memukul tanah. Siswa-siswa dari sekolah lain dengan sontak pun berkerumun.
“Sudah. Jangan dekat-dekat. Nanti dia tambah kepanasan. Kembali ke barisan!” kataku kepada mereke. Tampak siswa mulai berhamburan sambil mencari-cari air. Di barisan lain juga siswa terlihat satu per satu tumbang. Inspektur upacara masih saja terus bicara. Dia masih menbacakan sambutan tertulis bupati. Belum ada tanda-tanda mau berhenti. Itu baru sambutan tertulis bupati. Belum lagi sambutan lisan dari inspektur itu sendiri. Aku heran dengan pejabat di negara ini. Mereka suka sekali berkata-kata di depan banyak orang. Padahal kinerja mereka nol besar.
Setelah membaringkan siswi yang pingsan itu. Kulepaskan sepatunya. Dan kuminta siswa perempuan akar melonggarkan pakaian sehingga dia bisa bernafas bebas. Seketika itu juga kulihat semua siswa-siswi dari sekolah kami sudah tak ada lagi yang ikut dalam barisan. Semuanya telah berjalan mencari air. Mereka sudah tak tahan. Akupun setuju saja. Barisan guru-guru juga sudah bergeser ke bawa pohon untuk menghindari sengatan matahari.
***

Setelah upacara selesai aku bertemu dengan seorang guru dari ibu kota kecamatan. Dia lebih dulu yang menegur. Dari mobil jimmy dengan sok dia memamerkan kendaraannya. Aku dengan spontan berkata, “Eh so ta bae nga e!”
Dia dengan pongah menjawab, “Batabung no.”
Sungguh pongah. Mana bisa dengan gaji seorang PNS yang baru genap setahun sudah bisa memberi mobil seperti itu? Emang, gajinya berapa?
Aku jadi teringat masa lalu kami. Kami dulu sama-sama pernah terlibat dalam organisasi kemahasiswaan di tingkat fakultas. Sewaktu saya menjadi ketua Badan Eksekutif Mahasiswa, dia adalah ketua Majelis Permusyawaratan Mahasiswa. Saya di eksekutif. Dia di legislatif.
Dia pernah memohon-mohon padaku agar mendukungnya menjadi ketua. Saya berusaha membantu. Dan akhirnya dia menjadi ketua  MPM.
Suatu waktu saya mendapat tugas keluar daerah mewakili kampus. Selama saya pergi dia ternyata membuat kesepakatan diam-diam dengan pimpinan fakultas mengenai pemotongan beasiswa. Lima juta kantonginya. Itu adalah dana untuk organisasi. Tapi, dengan tamak dipakainya untuk pribadinya. Karena diuber-uber oleh anggota MPM lainya dia kembali meminta tolong kepada saya. Dengan tegas saya bilang saya tak bisa membantu dia. Karena jika demikian, sama saja turut menjadi koruptor seperti dia.
Jadi, mustahilah kalau dia sudah kaya sekarang kalau belum sampai setahun dia menjadi PNS. Menabung?

sebuah cerpen: BUNGLON


BUNGLON
Oleh Iswan Sual, S.S

Pantat kini panas karena lama telah saling gesek  dengan kursi kayu batang kelapa. Mata juga kian terseok-seok  menelusuri jalanan huruf  bertumpuk rapih di atas kertas putih. Tambah lagi penerangan terlampau kikir. Kuputuskan keluar dari gedung berisi berbagai buku itu saat itu juga.
Pas di depan gedung kurogoh ponsel lebar berwarna coklat dari kantong celana jinsku yang juga berwarna coklat. Kuambil beberapa gambar gedung itu dengan menggunakan kamera ponsel yang lumayan bagus hasilnya. Sebagai tanda mata bahwa aku sudah pernah berkunjung ke perpustakaan daerah sulawesi utara. Perpustakaan penampung buku antik.
Keadaan di atas kepala sana gelap pekat. Butir-butir air mulai berjatuhan dari langit. Namun, mobil di jalan yang lalulalang kian padat dan tergesah-gesah. Niatku untuk menyeberangi jalan terhadang.  Butir air kian banyak jatuh menghantam wajah. Maka akupun nekat menyeberang.
“Pemai ngana!” teriak sopir dengan mata hampir lepas.
Aku balas memandanginya dengan tatapan seorang waraney. Ca wana parukuan, cawana pakuruan. Kekesalan sang sopir tak bisa dilampiaskan karena begitu banyaknya penumpang dalam mikronya. Pasti akan ada lebih dari lima orang yang akan membentaknya bila ia tak mengurungkan niatnya untuk turun dan mengapa-apakan diriku.
Butiran air yang sebesar kerikil kecil semakin banyak turunnya. Calon pasukan Paskibraka yang ada di tengah lapangan berhamburan berlari menuju tribune yang berhadapan dengan kantor walikota kota Manado. Tak ada halangan buatku untuk kesana juga. Tribune itu adalah tempat berteduh yang tepat agar tak basah oleh tumpahan air dari langit.
“Baris! Baris! Cepat..cepat! Jang santai ngoni!”
Teriakan senior kepada adik-adik calon paskibraka itu membawaku ke masa lalu. Saat di mana aku masih sekolah di Amurang dulu. Kala itu kak Azis menarikku seperti babi yang haram bagi dia ke tengah-tengah lokasi pekuburan. Beberapa kali tulang keringku beradu dengan sudut-sudut runcing kubur.  Aku tahu bahwa aku sedang dibawa untuk ditakut-takuti. Memang benar. Saat tutup mata kubuka, aku dilepaskan begitu saja di kuburan yang baru berumur tiga hari. Lilin dan kransnya masih baru.
“Woi! Menghayal ngana!”
Tiba-tiba lamunan masa laluku kabur tungganglanggang kembali ke masa lampau. Kucari tempat untuk menaruh pantatku untuk beristirahat. Gadis-gadis bertubuh tinggi dan berambut pendek berdiri tegak. Dua kelompok barisan berhadapan. Kakak senior yang tak terlalu tinggi itu berdiri di tengah berkacak pinggang. Sungguh pongah! Senior-senior yang adalah anggota paskibraka tahun lalu bergentayangan di antara barisan. Yang  lelaki mencari-cari kesalahan perempuan. Begitu pula sebaliknya. Rasa ingin bersentunhan dengan junior  mereka samarkan dengan marah-marah atau atau pura-pura membetulkan atribut. Topi sering menjadi sasaran. Namun, gara-gara gugup, bukannya jadi betul malah menjadi kacau. Dasar senior! Ada-ada saja.
“ini sudah tanggal 12 Juli! Sekali lagi ya, ini sudah tanggal 12! Kok gerakkan kalian tak ada perubahan sih. Serius kwa kalu latihan. Biar le ada ngana pe tamang, pe orang tua, pe cowo ato cewe, pandangan tetap kedepan. Ngoni ini mo pikul tugas brat. Ngoni suka mo beking malu dang?”
“Siap tidak kak!”
Mataku mengunjungi peserta satu persatu. Di antara pasukan putri ada dua yang berjilbab merah. Sepertinya mereka kembar.  Lekuk tubuh masih nampak biarpun mereka menggunakan seragam treining yang sangat longgar. Kulit putih dan tubuh sintal mereka membangkitkan hasrat kelakilakianku. Wajah ayu mereka menimbulkan ingin untuk kembali ke masa lalu. Alangkah berbahagianya kekasih-kekasih gadis-gadis ini.
Sesekali pandanganku kulempar jauh bila tiba-tiba gadis-gadis itu membalas tatapanku. Dari kejauhan kulihat kain biru panjang bergelayut di pinggang gedung walikota. Di tribune dimana ku bertedu juga demikian. Kok bisa ya? Seharusnya kan berwarna merah putih. Aha! Betul-betul. Baru kuingat sekarang. Walikotanya seorang yang diusung oleh partai berwarna biru. Pantas saja gedung perkantoran kebiru-biruan. Di Tondano bulan lalu saat dilaksanakan kegiatan perkemahan pemuda, wilayah itu didominasi warna kuning. Kantor-kantor pemerintahan juga begitu. Ternyata bisa ya. Kantor dan fasilitas umum bisa diwarnai apa saja sesuka pejabatnya. Gedung-gedung dan kantor-kantor seperti bunglon yang kerap berganti warna bila penguasa berganti.

SEBUAH CERPEN: BUYUT


BUYUT
Oleh Iswan Sual, S.S

Sinar mentari perlahan merayap masuk melalui celah-celah jendela yang masih tertutup di kos Chintia. Gadis kuliahan semester lima yang punya tubuh sintal dan dikaruniakan Tuhan rambut dan kulit terang sibuk menempatkan piring dan sendok di atas meja untuk dikeringkan. Peralatan makan itu baru saja selesai dicucinya. Sedangkan Valeri pacarnya dengan belek besar di sudut mata sedang asyik pula dengan aktifitasnya. Bunyi tik tak tik berirama seakan sengaja diduetkan dengan bunyi piring dan sendok yang diletakkan satu per satu. Pagi yang lengang menjadi riuh menganggu para mahasiswa lain yang masih ngorok di kamar masing-masing.
Sudah dua tahun terakhir mereka menjadi pasangan kumpul kebo di kos-kosan Tataaran. Aktifitas keseharian mereka adalah kuliah di Universitas Negeri Manado. Mereka berdua termasuk mahasiswa panutan. Kartu Hasil Studi selalui dibanjiri nilai A dan B. Secara akademis, mereka tak mengecewakan orang tua. Namun yang pasti kebersamaan intim dengan status belum nikah adalah pengecualiannya. Itupun kalau ada teman sekampung punya mulut yang bocor membeberkan kehidupan bebas ala  Perancis sampai di telinga orang tua mereka.
“Apa kakak saya ada?” terdengar suara di depan pintu setelah Chintia membuka pintu yang baru saja diketuk pelan.
Sedikit Valeri mendongak memastikan siapa yang mencarinya. Rupanya Kandar adiknya. Dia seorang mahasiswa Jurusan Psikologi yang sangat menentang teori-teori Karl Jung murid Sigmund Freud pencetus teori Psikoanalisa. Pernah dia bilang bahwa pemikirannya lebih tajam daripada pemikiran Jung. Beberapa kali paper dan artikel yang telah dimuat di koran lokal dan nasional dipamerkan ke Valeri. Karena ketidakpahaman dan ketidaktertarikan, Valeri tampak bingung dan hanya mengangguk-angguk bak orang bijak baru saja membuat kesimpulan setelah proses perenungan sesuatu hal.
Kandar lain dari biasanya. Pakaiannya serba hitam. Raut wajah kusut dan lesu. Tak bertenaga. Bagai bunga kehilangan asa ketika tercerabut dari tanah.
“Kamu punya uang tidak?” tanpa dipersilahkan, dia duduk, “Saya mau beli pulsa untuk nelpon. Sepuluh ribu saja.”
Lebih dari dua kali Valeri menyebut kata “tidak punya”. Berbagai alasan meluncur dari mulut yang belum dibasuh. Bau nafas tersebar ke segala penjuru ruangan. Asam lambung Kandar meningkat. Sakit mag kambuh.
“Eh, Buyut sudah meninggal. Semalam dia ditembak Brimob,” suara yang sebenarnya ditahan-tahan keluar juga. Telah diusahakannya agar kalimat itu jangan terciprat agar kakaknya tak salah sangkah dengannya. Dia tak menginginkan kematian temannya menjadi alasan memalak secara halus kakaknya. Tapi, terpaksa harus. Pagi ini Kandar memang betul-betul tak memiliki sepeserpun. Padahal dia harus menghubungi teman-teman kelasnya dulu untuk memberitahukan kematian Buyut. Teman SMU-nya itu ditembak polisi jam 02.04 dekat poskamling pertigaan lorong inpres Tataaran.
Kandar menuturkan kronologi sambil menunduk tak berani menatap Valeri. Wajah masam nun gundah dirasa tak perlu dipertontonkan kepada kakaknya. Tak ada hubungan, pikirnya. Bagi orang yang tak kenal dekat, orang akan langsung menyimpulkan Buyut sebagai seorang preman yang suka mengganggu orang dan kerjaannya hanya mabuk melulu tanpa sedikitpun memikirkan masa depan. Tetapi bagi Kandar dia adalah penyelamat. Bukan hanya sekali Kandar dibantunya saat dompetnya kosong melompong. Berhari-hari makan di rumahnya. Berteman dengan seorang anak Tataaran adalah sebuah keuntungan. Jiwa sosial Buyut melebihi khotbah-khotbah pendeta di atas mimbar. Dia lebih banyak mempraktekan kasih. Sedangkan pendeta lebih suka menghipnotis jemaat dengan khotbah yang ujung-ujungnya meyakinkan jemaat bahwa mereka sebagai pendeta berhak menerima bagian sebagai golongan Lewi. Padahal jelas diuraikan oleh Alkitab bahwa golongan Lewi perlu diberi karena mereka tak mendapatkan warisan di antara anak-anak Yakub yang lain. Apakah pendeta orang Lewi? Apa mereka tidak mendapat warisan dari orangtua mereka?
Setelah memberi uang Rp 10.000 Valeri mulai berkemas. Chintia turut membantu memasukkan pakaian ke dalam tas. Juga dua buah kamus Inggris-Indonesia yang disusun John Echols dan Hassan Shaddily dititip untuk diberikan kepada dua adiknya yang baru saja masuk Sekolah Menengah Pertama di kampung. Ada sedikit rasa bersalah timbul di lubuk hati  Valeri karena sudah agak kikir pada adiknya yang hendak membantu keluarga Buyut yang dirundung duka nestapa. Bagaimana tak berduka? Buyut adalah anak satu-satunya. Pekerjaannya sebagai supir sudah menopang ibunya 10 tahun terakhir.
“Aku jalan dulu ya,” kata Valeri tanpa disahut oleh satu orangpun dalam kamar kos bercat biru laut itu. Warna biru ikut-ikutan memperkuat simbol duka semua orang dalam kamar. Hanya anggukan yang diterima Valeri. Kandar keluar kamar lebih dahulu. Sementara Chintia berupaya menahannya sebentar agar mendapat kecupan dan dekapan mesra sang pujaan hati.
Rasa gembira pulang kampung tak memacuh langkah Valeri. Biasanya pulang kampung selalu menjadi sebuah episode hidup yang menyenangkan. Kini, Valeri telah berada di jalanan. Kendaraan serasa mau menyenggol tapi diabaikannya. Valeri berjalan dengan perhatian buyar. Rasa bersalah pada Kandar. Rasa bersalah pada Buyut. Sentuhan kasih Buyut semasa dia hidup pernah dirasakannya. Bukan hanya pernah. Beberapa kali malah. Dan selalu terjadi ketika dia turun dari mikro. Biaya ongkos angkutan selalu saja dibebaskan Buyut. Sampai-sampai Valeri enggan lagi menumpang di mikro yang dikendarai Buyut. Buyut…Buyut. Tampangnya saja yang serem. Tapi dia begitu dermawan. Valeri bergumam.
Sekarang ini Valeri telah berada di atas bus menuju kota Manado. Dia akan menempuh rute yang panjang hari ini. Tataaran-Karombasan-Pasar 45 (untuk beli buku di toko buku Gramedia)-Malalayang-Amurang-Tondei-Pelita. Keempat roda bus laju melunjur menanjak melewati bukit Kasuang. Tiba-tiba bus terhenti. Kerumunan orang dengan sepada motor, jumlahnya kurang lebih 300an nampak standby di depan kantor PLN Kaaten Tomohon. Beberapa orang terdengar mengeluarkan keluhan. Bahkan disertai makian. Kutempelkan mataku ke kaca jendela. Melihat-lihat apa yang sebenarya berlangsung. Mengapa begitu banyak orang berkerumun? Seperti ada kampanye. Begitu bus maju dua langkah, aku membaca spanduk putih dengan tulisan, “Buyut, kami siap sedia menggiringmu ke surga.”
Air mata sontak tumpah. Tak lagi dapat kubendung. Dalam diam tertahan Valeri sesenggukan. Dia dikuasai emosi. Ratapan seakan mau pecah. Terucap doa, “Ya Tuhan, terimalah anakMu Buyut. Ampunilah dia yang memukuli polisi kala dia tengah mabuk. Dia bukan orang jahat. Dia hanya sedikit nakal. Maklum anak muda. Ampunilah pula polisi yang menembaknya. Dia juga masih mudah. Masih berdarah panas. Tak dapat menahan emosi. Ampunilah . Mereka hanyalah manusia biasa. Yang tak lepas dari salah. Amin.

28 Juli 2012

SEBUAH CERPEN: BALAS DENDAM

BALAS DENDAM
Oleh Iswan Sual
Dengan keseriusan yang mendalam, ditemani secangkir teh dan kue cucur, aku membaca berita-berita dari sebuah harian lokal. Harian yang kentara dengan dua hal saja: kriminal dan seks. Gambar orang yang mengenaskan dan memanaskan mendominasi lembar demi lembarnya. Menurutku berita-berita yang disuguhkan di situ bukanlah berita. Prosentase terbesarnya adalah kejadian yang dilebih-lebihkan. Antara fiksi dan nonfiksi perbandingannya adalah 80 % dan 20%. Walaupun tahu kebohongan itu, terus saja aku membaca. Siapa tahu, tulisan-tulisan itu dapat dijadikan inspirasi untuk karya-karyaku nanti. 
Di petang itu, matahari seakan menunda tenggelamnya karena ikut terlena bersamaku. Tiba-tiba telepon genggamku berderit-derit. Begitu kutekan tombol tanda terimanya, terdengar suara lembut seorang gadis di ujung telepon. Tak pernah terpikirkan olehku si penelepon itu akan melakukan itu setelah apa yang pernah aku lakukakan padanya.
“Halo kak!”
“Halo, sapa ini?” kataku dengan  kernyitan pada dahi.
“Eh, pe sombong! Masa so lupa.”
Ku coba menerka-nerka dalam kepala. Memang suara itu tidak asing di pendengaranku. Hanya saja akhir-akhir ini tak lagi pernah ku dengar. Suaranya yang mendayu-dayu mengorek masa laluku, empat atau lima tahun yang lalu. “Ah pasti dia! Takkan keliru. Itu pasti Hartina,” aku memastikan.
“Eh tumben telepon. Tau dari mana kita pe nomor?”
“Memangnya so tau sapa kita?”
“Haaartina to? Dari mana ngana tau  kita pe nomor?”
“Ih kakak, kalu nda suka orang tahu tu nomor, jang taru di feisbuk dang,” katanya sinis. Aku jadi malu sendiri.
“Oh io kang. Kyapa ngana telpon pa kita?”
Kyapa ngana telpon. Kutanyakan sekali lagi pertanyaan itu. Aku heran dia mau mencari kabarku. Padahal aku sama sekali tak peduli padanya. Perasaanku campur aduk. Kami terus saja ngobrol. Tak sedikitpun disinggungnya soal masa lalu kami yang sangat menyakitkan bagi dia. Anehnya, dia malah melarangku membicarakan itu. Sebenarya aku mencoba mengingatkannya supaya aku mendapat kesempatan untuk memohon maaf. Dia malah menimpali, “Tak ada yang perlu dimaafkan, kak. Yang sudah terjadi, terjadilah. Lagipula, kita tidak dapat merubah sesuatu menjadi lebih baik dengan terusan saja menyesalinya.” Begitu menusuk kata-kata itu. Aku jengah. Malu. Malu pada seorang yang terus memanggilku kakak. Begitu hormatnya dia padaku meskipun aku telah merenggut kesucianya dan meninggalkannya.
“Kak, torang baku dapa kwa,” katanya bak sengatan kelabang yang tiba-tiba.
“For apa? Ngana mo lebe kecewa mo lia kita pe keadaan sekarang. Kita so nda gaga. Kita bukang lagi orang yang pantas ngana mo beking idola.”
“Hahaha…kakak…kakak. Masih saja seperti dulu. Walaupun kakak dulu playboy, tapi tetap saja rendah hati. Kak, kita serius. Torang baku dapa ne?”
“Ngana dimana?”
“Kita di Jakarta. Mar besok kita pulang. Plis…ada yang penting torang dua mo bacirita…hehehe. Besok…bole to? Plis…plis…”
Keramahannya tidak membuatku senang. Malah semakin membuatku merasa bersalah dan penasaran. Terbesit dalam benak akan ada pembalasan dalam pertemuan yang dia rencanakan itu.
“Nanti bacirita ulang jo. Kita nda bisa pastikan kalu torang bisa bakudapa.”
“Kak, tenang jo kwa. Kita nda mo bajahat. Tolong ne, datang.”
Telepon ditutup. Pertanyaan demi pertanyaan muncul bergantian. Kebanyakkan tak bisa kujawab. Ada apakah gerangan? Kenapa dengan tiba-tiba dia menghubungiku untuk bertemu? Aneh bin ajaib. Dulu, setelah madunya aku hisap semua, dia kutinggalkan begitu saja. Tak sedikitpun kuanggap dia berharga dalam hidupku waktu itu. Kini, dia datang dengan senyuman manis. Sungguh tak masuk di akal. Pembalasan lebih kejam daripada perbuatan. Biasanya itu yang berlaku. Tapi, kenapa ini rupanya berbeda? Tapi apa boleh buat, aku harus menemuinya. Aku harus mempertanggungjawabkan semua perbuatanku. Inilah kesempatanku untuk memperbaiki semua kerusakan yang telah aku lakukan padanya. Apa yang akan terjadi, terjadilah.
***
Bayangan tentang rupa dia, ternyata tak salah sedikitpun. Dia sudah berubah. Penampilannya sangat jauh berbeda denganku. Dia terlihat sejahtera. Pakaiannya dibuatnya sederhana, namun tetap saja bergelimang mewah dari kaki hingga kepala. Sedangkan aku, apa yang terbaik dari lemari pakaian, itu yang kukenakan. Tapi, tetap saja kelihatan seperti seorang gembel. Antara aku dan dia serupa bumi dan langit perbandingannya.
“Ayo,” katanya lembut sambil menyentuh pundakku. Kami masuk semua café remang-remang. Solaria dulu tempat aku dan teman-teman mengadakan pertemuan. Disini kami banyak berdiskusi mengenai teori-teori yang tak berguna sama sekali ketika kami terjun ke dunia nyata. Di sini juga kami menyusun rencana awal untuk demonstrasi sebagai bentuk pendampingan kepada masyarakat kota Manado yang menjadi korban penggusuran brutal oleh Polisi Pamong Praja. Banyak masyarakat yang dibohongi dan bahkan dipentungi karena tetap bertahan. Mereka bertahan untuk mengais nafkah hidup. Pemerintah malah lebih mengutamakan pengusaha besar yang berduit banyak daripada pengusaha kelas ikang puti yang cari sehari makan sehari.
“Torang mo bicara apa, Hartina?” kataku mendesak.
“Pesan dulu kwa. Pesan jo apa yang kak suka. Makanan, minuman apa jo. Kita traktir hehehe,” celotehnya enteng.
Aku diam dalam kebingungan. Kupikir keramahannya hanya akan berlaku sewaktu di telepon. Sangkaanku keliru. Hingga di tempat ini pun dia terus bersikap ramah dan superbaik padaku. Aku jadi seperti orang dungu di depannya. Barangkali ini adalah kutukan dari Tuhan atasku karena aku banyak bualannya ketika masih sama-sama dengan dia dulu.
“Aku pesan ini saja,” kataku sambil mengeserkan buku menu ke arah Hartina.
“Hi, kyapa cuma capoccino? Emang, kak nda lapar. Jao-jao kamari dari kampung cuma mo minum. Kakak musti makan, kita tulis jo tre. Kakak ini bagimana,” cepat-cepat dia menulis beberapa item nama makanan dan minuman atas namaku.
“Hartina…!”
Langkah kaki Hartina tak sanggup kucegah. Dia telah pergi ke meja kasir untuk mengonfirmasi pesanannya. Dia kembali dengan wajah berseri. Seperti saat kami bertemu di lobi tadi. Dia berusaha menghiburku dengan kata-katanya. Semakin dia melakukan itu, aku kian merasa akan ada hal luar biasa mengagetkan yang akan aku dengar dan lihat sebentar lagi. Kupikir, dia sedang menunda semua sumpah serapah dan segala tetekbengek yang sesungguhya yang harus dia lakukan. “Aku siap. Lakukan saja Hartina. Aku siap menanggung semuanya. Seberat dan seburuk apapun,” gumamku.
“Kak, ayo makan. Tenang, semua ini kita yang bayar. Kakak nda usah repot. Habiskan…hahaha.”
Guyonannya kubalas dengan senyum tipis. Tapi dia kelihatan tenang-tenang saja. Dia bebas dari beban. Santai. Dia pun makan dengan lahap. Padahal, dia tidak sebegitu pelahap sewaktu kami masih sama-sama dulu. Separuh dari nasi di piringnya, selalu saja dia berikan padaku. Dia malah beberapa kali tak makan dengan alasan diet. Itu hal aneh yang pernah kutemui. Sudah ramping dan langsing tapi mengekang mulut untuk makan. Dulu, itu aku tak pedulikan. Tak menjadi persoalan penting bagiku.
Sekarang Hartina memiliki hidup yang disiplin. Badannya yang terurus dan pakaiannya yang rapih menunjukkan bukti-bukti itu. Maklumlah, dia bekerja di perusahaan penerbangan terbaik Indonesia. Sedangkan aku hanyalah seorang pemanjat kelapa yang sewaktu-waktu jatuh dari udara tanpa jaminan asuransi perusahaan. Padahal, orang-orang seperti kamilah yang menyongkong bahan pangan orang-orang kota.
Namun, aku sedikit bahagia. Dia tentu tak akan pernah mewujudkan cita-citanya menjadi pramugari bila aku serius mencintainya lalu kammi sampai ke jenjang pernikahan. Pasti dia akan turut dalam kemelaratan bersamaku.
“Kak, kita jalan yuk,” kata Hartina sambil mengambil tasnya yang berwarna pink bercampur putih susu.
Ponselnya yang berukuran besar juga punya warna serupa dengan tas. Kini dia berdiri tepat di sampingku sambil menyentuh pundak sekali lagi. Tubuhnya kian berbentuk. Lebih elok daripada tubuh yang pernah aku peluk dulu. Kusadari dia memiliki lebih banyak keunggulan fisik dari Happy Salma. Keinginan berahiku mencuat namun terlampau kuat kukekang. “Jangan pernah berharap lagi gembel!” kataku dalam diam.
“Mo kamana torang?”
“Ke tempat dimana kakak akan dijagal. Di situlah aku akan membalaskan dendamku…hahaha… Aku bercanda. Ikut saja kak. Kita akan mencari tempat yang lebih aman untuk bicara. Kakak tidak keberatan kan?”
***
Aku tak pernah menyangka kalau kini Hartina telah benar-benar berubah dalam banyak hal. Bukan hanya dalam penampilan fisik dan kelakuan. Tak pernah terpikir kalau aku baru saja naik dan turun dari mobil sedan berwarna putih miliknya. Aku juga tak pernah membayangkan kalau dia akan membawaku ke rumahnya yang mewah di perumahan Real Estate Citra Land. Tak pernah lewat dalam benakku dia akan membiarkan seorang gembel nun jahat sepertiku mencicipi kemewahan yang dia peroleh dengan keringatnya sendiri. Apakah ini adalah bentuk balas dendam yang dia maksudkan? Apakah ini semua menjelaskan padaku bahwa seorang korban seperti dia telah diangkat oleh Tuhan dan telah diberikan kehidupan yang lebih baik daripada orang yang telah merusak kehidupannya di masa silam? Kalau itu tujuannya, aku sudah menderita jauh sebelum dia menelponku kemarin. Bahkan hari itu saja, hari dimana aku mencampakkanya, siksa dari balasan itu sudah kurasakan. Tapi rupanya ini adalah puncak dari semua itu. Aku siap Tuhan. Balaskan dendamnya setimpal dengan semua kebejatanku.
“Kak, apa kakak sudah memiliki seorang istri?”
“Kenapa kamu bertanya seperti itu Hartina? Terus terang, setelah apa yang pernah aku lakukan padamu, aku tak lagi punya keberanian untuk berangan memiliki seorang istri. Aku rasa, aku tak pantas dianugerahi seorang wanita. Dosaku terlalu banyak pada perempuan.”
Hartina meraih tanganku. Air mata mengalir deras dari matanya. Semakin erat dia meremas tanganku. Dia tertunduk sesenggukan. Aku tak mengerti. Sangat runyam untuk kupahami.
“Kak, kita nda perna baharap cinta lagi dari kakak. Samua yang perna kak kase so cukup mo se sadar pa kita kalu kita ini cantik. Samua yang perna kakak kase, walaupun itu stenga pura-pura, so cukup beking kita rasa apa depe arti menjadi seorang gadis yang dicintai. Kita blajar, kalu kita lei sayang pa kakak, berarti kita musti kase kebebasan pa kakak for mo dapa apa yang kakak rasa bagus. Kita memang manangis, waktu kakak kase tinggal dulu. Mar kita nda perna binci pa kak. Kita kase biar kakak pigi mo cari kakak pe cinta sejati supaya kakak bahagia. Tantu, kita senang kalu kakak bahagia. Kebahagiaan kakak adalah kita pe kebahagiaan juga.”
            Aku menunduk malu. Tak pantas aku mendongak dan menghapus air matanya yang terlalu suci untuk kujamah. Dia sempurna. Dia adalah malaikat. Bagaimana bisa aku tak mengenalnya sedari awal? Aku telah menyia-nyiakan sebuah cinta sejati.
***
Setahun kemudian aku menikah dengan seorang gadis di kampungku. Dia tidak memiliki pendidikan tinggi namun ada padanya kepribadian yang serupa dengan Hartina. Namanya Hermita. Gadis yang berkulit agak gelap. Tubuhnya semampai. Cantiknya tiada bandingan. Kusuma desa. Ya, bunga desa.
Pertemuan aku dan Hermita pun mirip pertemuanku dengan Hartina. Sekarang aku dan Hermita tinggal di perumahan Citra Land. Semua harta dan kepunyaan Hartina dia wariskan padaku pada saat kami bertemu tahun lalu. Dia memberikan semua surat-surat tanah, rumah, serta kendaraan yang tertulis atas namaku. Juga dua café yang terletak di kawasan Mega Mas. Rupanya dia bekerja bertahun-tahun demi aku yang telah menyia-nyiakannya. Sulit untuk memahami pikiran dan perasaannya padaku. Namun yang pasti, dia mencintaiku dengan segenap jiwa dan raga.
Setiap minggu aku mengunjungi kuburannya. Dia meninggal dalam kecelakaan pesawat di atas wilayah Makassar sehari sesudah pertemuan kami. Dia telah tahu dengan pasti kapan malaikat maut akan menjemputnya. Air mataku tak terbendung setiap kali aku meziarahi makamnya. Pada batu nisannya tertulis:


Regular Pentagon: Pusara Dari
Hartina Mertosono binti Sukiman
Umur: 25 tahun
“Kebahagiaanku adalah ketika melihat kekasihku mendapatkan cinta sejatinya. Sekalipun, bukan aku wanita yang beruntung itu.”